Explore Tengatiba

Temukan keindahan budaya, rasa, dan alam yang berpadu dalam satu desa. Mari rasakan keramahan masyarakat, jelajahi tradisi, dan ciptakan kenangan tak terlupakan di Tengatiba

Tentang Kami

Desa Tengatiba adalah desa budaya yang menyimpan pesona alam asri dan tradisi yang masih hidup. Rumah adat, tarian, dan upacara adat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang ramah dan hangat.

Desa Tengatiba merupakan sebuah desa yang berada di kecamatan Aesesa SelatanKabupaten NagekeoNusa Tenggara TimurIndonesia. Desa Tengatiba terbagi menjadi empat dusun. Dusun Jawakisa, dusun Nunungongo, Dusun Bonat, dan dusun Dadhowawo. Berdasarkan jumlah penduduk, Desa Tengatiba berjumlah 2.773 Jiwa diantaranya laki-laki berjumlah 1.336 Jiwa dan perempuan 1.407 Jiwa yang tersebar di keempat dusun. Pada tahun 2025 terjadi pemetaan wilayah baru di desa Tengatiba dengan Desa persiapan Tengatiba Timur meliputi Dusun Bonat dan Desa Tengatiba Barat meliputi Dusun Dadhowawo. Oleh karena itu, per-tahun 2025 Desa Tengatiba hanya memiliki dua dusun yang menjadi wilayah administratifnya yakni dusun Jawakisa dan dusun Nunungongo.

Sejak dahulu, masyarakat Tengatiba hidup selaras dengan alam menggantungkan kehidupan dari pertanian, serta kerajinan tangan. Dari situlah lahir kekayaan budaya seperti tenun tradisional, rumah adat, hingga kuliner khas yang masih dilestarikan hingga kini. Desa Tengatiba memiliki potensi wisata Budaya yang menjadi konsentrasi pengembangan di bidang pariwisata. Wisata Budaya yang dimaksud adalah Rumah adat yang memiliki rentetan peristiwa sejarah dan kesakralan tradisi yang dihidupi oleh masyarakat Tengatiba. Desa Tengatiba memiliki dua rumah adat dan berada di dua dusun yakni Rumah adat Nunungongo dan rumah adat Jawakisa.

Datanglah ke Tengatiba, nikmati suasana desa yang damai, pelajari kearifan lokal, dan rasakan pengalaman budaya yang tak terlupakan.

Warisan Leluhur di Tengah Alam

More than just a journey, visiting our cultural village is a soulful experience that connects you with nature, traditions, and the heart of the community.

Kampung Adat Nunungongo

Sejarah

Kampung Adat Nunungongo merupakan salah satu wisata budaya yang ada di Desa Tengatiba. Secara etimologis sebutan “Nunungongo” terdiri dari dua kata yakni “Nunu : pohon beringin dan Ngongo : lubang. Dahulu terdapat pohon beringin yang besar dengan lubang pada pangkalnya yang memungkinkan anak-anak bermain di dalamnya. Kampung Adat Nunungongo sudah ada sehjak lama sekitar ratusan tahun yang lalu. Kampung ini memiliki lingkungan yang asri, udara segar dan mencerminkan keharmopnisan antara manusia dan alam.

Rumah adat di Nunungongo sama halnya dengan rumah-rumah adat lainnya di tanah suku Redu dibangun secara bertahap dengan perencanaan yang matang dan seluruhnya melibatkan peran para leluhur/nenek moyang. Bahkan rencana untuk membangun rumah adat harus dipastikan kesiapannya karena jika rencana itu dikemukakan dalam keluarga maka ada kepercayaan bahwa para leluhur juga mendengarnya. Apabila rencana tersebut hanya isapan jempol belaka maka perlu membuat ritual rekonsiliasi atau permohonan maaf kepada para leluhur. Proses pembangunan rumah adat dilakukan secara bertahap dan dapat berlangsung dua puluhan hari. Tahapan-tahapan tersebut seperti: Pa’u Lagho, Sela, Gedho Ebu Ga’e, Rega, Pasa Tubo Pali, Pasa Ana Deo, Pere Meo, Kogo Lako, Roru Soku, Mane, Nama Nao, dan banyak tahapan lainnya yang ditutup dengan acara syukuran (Para).

Budaya

Masyarakat adat Nunungongo hingga kini tetap menjaga kelestarian tradisi dengan berbagai ritus. Bagi mereka sikap ini bukan tanpa alasan. Tradisi dan ritus sangat kaya akan nilai dan keutamaan yang bermakna bagi kelangsungan hidup dan keteraturan hubungan sosial. Tradisi dengan aneka ritus dilangsungkan dalam kurun waktu satu tahun dan dibuat kembali pada tahun berikutnya. Tradisi dan ritual adat antara lain; Gua Ru, Gua Meze, Tau Sao, Tau Ae, Tau Nuwa, Koa Ngi’i. Berkenaan dengan keteraturan hubungan sosial atau pergaulan masyarakat adatnya, terkhusus soal hubungan atara remaja pria dan wanita (pacaran) harus menjalankan ritual Tau Ae agar dipandang pantas di mata masyarakat adat. Selain itu terdapat hukum relasi berdasarkan Woe (himpunan orang yang memiliki hubungan kekerabatan). Pria dan wanita yang masih dalam satu Woe tidak bisa dan tidak boleh menjalin relasi asmara dan untuk Woe yang berbeda terdapat aturan adat yang mengatur seperti Woe Au Poma hanya membolehkan laki-lakinya mengambil perempuan dari Woe Ebu Wedho tetapi laki-laki dari Woe Ebu Wedho dilarang mengambil perempuan dari Woe Au Poma. Hukum adat semacam ini sangat memungkikan laki-laki dan perempuan yang masih memiliki hubungan kekerabatan untuk tidak menjalin hubungan ataupun di luarnya untuk salah langkah dalam memilih pasangan hidup.

Upacara Adat Tau Ae / Sunat)Selain keindahan lingkungan alam beserta keserasian dan keaslian rumah adat yang juga ditopang oleh kekayaan tradisi dan ritus yang dapat dinikmati baik langsung maupun lisan oleh wisatawan, para wisatawan juga disuguhkan dengan aneka makanan khas masyarakat setempat (uwi, jawa bose, koro nio, moke arak) dan kerajinan tangan berupa kain tenun adat (Telopoi), hal ini tidak hanya memberikan Anda kenangan-kenangan yang indah tetapi juga membantu masyarakat Rendu dalam mempromosikan dan melestarikan warisan budaya mereka. Sebelum para wisatawan menikmati semua keindahan dan kekayaan adat maupun alam di kampung adat Nunungongo, para wisatawan dipastikan telah merasakan penerimaan penuh kehangatan langsung dari Tetua Adat dengan sapaan adat yang mangandung doa di dalamanya agar Wujud Tertinggi dan para leluhur menemani seluruh langkah para wisatawan baik selama berada dalam kampung maupun setelah meninggalkannya.

Kampung Adat Jawakisa

Sejarah

Secara Etimologis, Jawakisa adalah sebuah nama kampung yang artinya ‘Pohon kepuk yang tumbuh ditengah’. Jawa artinya Pohon Kepuk sedangkan Kisa  artinya Tengah. Dahulu terdapat pohon Keuk yang sangat besar dan berada ditengah-tengah kampung dan memungkinkan orang-orang jawakisa berlindung serta anak-anak mereka bermain dibawahnya.

Budaya

Kampung Jawakisa memiliki enam rumah adat atau Sa’o waja sebagai tempat berkumpulnya para anggota suku dan juga sebagai tempat menjalankan ritual-ritual adat. Adapun nama-nama dari keenam rumah adat tersebut : Rumah Peo Wea, Keli Ola, Aja Eko, Peti Piri, Nago Nua, Keli Kida. Keenam rumah tersebut memiliki satu gerbang masuk utama yang disebut Atu Ulu dan gerbang belakang yang disebut Atu Eko sebagai pelindung keselamatan orang Jawakisa.

Atu Ulu

Ditengah-tengah Kampung adat Jawakisa terdapat dua buah batu yang mempunyai fungsi masing-masing. Ada Nabe ate Bo’a (Hati Kampung), Batu ini diyakini orang Jawakisa sebagai lambang persatuan masyarakat adat Jawakisa. Adapun Nabe Para Bhere.  Batu ini diyakini oleh orang-orang Jawakisa sebagai batu yang akan menyelesaikan semua masalah yang berhubungan dengan pelanggaran-pelanggaran adat yang dibuat oleh masyarakat adat. Proses penyelesaiannya melalui kurban/persembahan berupa hewan-hewan yang akan dipersembahkan kepada leluhur di atas batu tersebut

Dalam mengerjakan rumah adat atau Sa’o Waja, Masyarakat adat Jawakisa melewati beberapa tahap pengerjaan serta melibatkan para leluhur dalam seluruh proses pembangunan rumah adat. Oleh karena itu dalam mengerjakan sebuah rumah adat harus dipastikan soal kesiapan semua anggota suku, mulai dari persiapan makanan, alat dan bahan sampai pada tahap pengerjaan. Berikut adalah proses pengerjaan Rumah adat atau Sa’o Waja Jawakisa suku Rendu khususnya pembuatan rumah adat  Sa’o peri Jawakisa. Wari (jemur padi), Dhoga dho (tumbuk padi), Ala ila (ambil kayu), Zaba taka (asah kapak dan parang), Cari bahan (papa wuwu,koli dan tiang rumah adat), Sela ( masuk bahan), Pogo Ebu Ga’e (posa rebu), Malam Naro ( menyiapkan syair-syair serta nama manusia dan juga nama kayu), Rega (pasang tiang rumah di lanjutkan dengan pekerjaan lain), Pasang Tubo Pali (pasang siku-siku), Pasang Bhenga Ana Dheo (papan yang di gambar), Pasang papan seluruh, Pasang Kada Meo (dinding untuk pele kucing), Roru Soku  (pasang belahan bambu), Name ( ikat bambu dan koli), Nama Nao (ikat ijuk di 4 sudut dan di tengah), Sape (atap rumah), Guti Rodu (potong alang-alang untuk merapikan), Mia Api ( passang api), Mula Lika ( pasang tungku), Ala Go  Laba (ambil gong gendang), Tege Go laba ( masuk gong gendang dalam rumah adat di lanjutkan bhea atau menyampaikan syair-syair budaya baik nama orang dalam nama kayu), Dhedhu ke’o (masak nasi jali ), Para ( potong kerbau dan malam naro  menyampaikan syair-syair budaya serta nama orang dan nama kerbau), Ka Pesa ( makan adat ), Pete Ulu Tu’u
(pasang tanduk kerbau).

Selain itu, Rumah adat di Jawakisa memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan itu menunjukan kematangan usia rumah dan juga sebagai kemampuan status sosial. Teo Tenga, Libu, Wudhu Lulu (Satu Tempat Tidur), Kico (Dua Tempat Tidur), Beki telu (Tiga Tempat Tidur), Beki Wutu (Empat Tempat Tidur), Beki Lima (Lima Tempat Tidur), Beki Lima Esa (Enam tempat tidur), Gebhe Go (Tuju Tempat Tidur). Semua rumah adat memiliki tampak yang sama, namun ketika didekati dan diidentifikasi ternyata memiliki banyak sekali perbedaan,  mulai dari simbol-simbol sakral yang ada didalam rumah sampai pada perbedaan tingakatan rumah yang satu dan rumah yang lain. Pada umumnya rumah adat menyerupai rumah kolong dan atapnya berbentuk kerucut. Namun, yang menjadi pembeda salah satunya adalah Ana Deo (Pusaka rumah adat) yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Pada Awalnya Ana Deo Hanya berbentuk buah dadanya saja sampai pada bentuk yang  paling sempurna menyerupai manusia yang mengenakan pakaian adat. Kesempurnaan bentuk Ana Deo menunjukan tingkatan tertinggi bagi sebuah rumah adat.

PEMERINTAH DESA TENGATIBA

Servasius Ame, S.P

Kepala desa

Zakarias Rupi, S.Sos

sekretaris

Selestinus Pita

kepala dusun nunungongo

Rivianus Bai

kepala dusun jawakisa

Datang dan rasakan pesona Desa Wisata Tengatiba!

Hubungi kami untuk mengetahui jadwal acara budaya, tenun tradisional, hingga pengalaman unik yang bisa Anda temukan di Desa Wisata Tengatiba.

Ragam Keunikan

Tengatiba adalah tempat di mana tradisi, alam, dan keramahan berpadu indah. Nikmati kuliner autentik dengan cita rasa turun-temurun, kagumi tenun tradisional yang sarat makna, dan jelajahi rumah adat yang menyimpan kearifan leluhur. Semua keunikan ini menjadikan Tengatiba sebagai destinasi budaya yang hangat, berwarna, dan tak terlupakan.

Galeri

Kontak

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kunjungan dan kegiatan di Desa Tengatiba, silakan hubungi kami melalui telepon dan email di bawah ini!